Moeldoko: Seorang Pemimpin Harus Berani Ambil Risiko

Mungkin bagi Anda sosok saya memang sangat identik dengan TNI Angkatan Darat. Lebih dari itu, saya akan sedikit bercerita. Kala itu, puncak karier saya di TNI AD adalah saat menjabat sebagai Kepala Staf TNI AD pada 20 Mei hingga 30 Agustus 2013. Kemudian, saya ditunjuk presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono untuk naik pangkat dan menjadi panglima TNI.

Tahun ini, saya ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo sebagai Kepala Staf Kepresidenan menggantikan Teten Masduki. Sebuah tugas yang menantang sekaligus mulia untuk Tanah Air. Kini, saya menjadi salah satu orang yang memiliki tugas penting dalam lingkungan istana. Mengabdi terhadap negara merupakan tugas mulia yang sudah mendarah daging dalam diri saya.

Apabila Anda bertanya mengenai sebuah kepemimpinan, saya dengan sigap akan menjawab bahwa menjadi seorang pemimpin merupakan tanggung jawab yang besar dan harus berani mengambil segala risiko yang akan dihadapi. Menurut saya, jika seorang pemimpin tidak bisa tegas dengan keputusannya maka ada banyak hal yang akan mematahkannya.

Pendapat tersebut saya ambil dari prinsip rakyat pada negara-negara maju yang memiliki standar tinggi dalam kehidupannya. Rakyat yang ada di negara maju selalu memiliki prinsip yang menyukai tantangan, pekerja keras, disiplin tinggi, tanggung jawab terhadap semua yang dilakukannya, dan juga berani untuk mengambil risiko tentunya dengan pemikiran yang matang.

Akan tetapi selalu ada kendala ketika seseorang ingin menjadi pribadi yang lebih baik di negaranya sendiri. Kendala inilah yang acapkali membuat orang kesulitan untuk menjadi dirinya sendiri sehingga sulit untuk menerima kemajuan zaman. Namun kendala ini juga bisa dihilangkan dengan mengikuti kebijakan-kebijakan yang telah diberikan oleh pemerintahan.

Bagi saya, setidaknya ada lima hal yang membuat orang harus mengikuti kebijakan orang lain. Apa sajakah itu?

Pertama karena otoritas atau kekuasaan, misalnya seorang Jenderal pada level kepangkatan di bawah.

Level kepangkatan dalam sebuah organisasi tentunya mempengaruhi seseorang untuk harus bertindak sesuai dengan perintah dari atasannya. Bukan hanya di lingkungan pemerintahan saja, akan tetapi di semua organisasi dengan struktur dan tugas yang jelas tentunya mengharuskan anggota yang ada di bawahnya menuruti perintah dari atasan. Contohnya adalah seorang jenderal TNI bisa memerintah anggota yang ada di bawahnya.

Hal kedua seseorang mau mengikuti orang lain karena rasa takut.

Rasa takut juga menjadi alasan mengapa orang harus mengikuti perintah atau kebijakan orang lain. Rasa takut ini bisa datang dari kekuatan, kepangkatan, dan kekuasaan. Rasa takut ini umumnya karena jika tidak melaksanakan apa yang diperintahkan ada konsekuensi yang harus diterima. Seperti halnya ketika seseornag tidak menjalankan tugasnya dengan baik maka akan dievaluasi oleh atasannya. Untuk menghindari hal tersebut tentu saja anggotanya akan menjalankan dan menuruti perintah atau kebijakan yang diberlakukan.

Ketiga karena ada kharisma, misalnya dimiliki oleh para pemimpin agama.

Ada alasan lain mengapa seseorang harus ikut perintah selain karena kekuasaan, kekuatan, dan kepangkatan, yaitu adanya kharisma dalam diri seseorang. Hal ini tampak pada umat beragama yang akan menjalankan nasehat dan amanah yang diberikan oleh para pemuka agamanya. Jadi bagaimanapun keadaan pemuka agama tersebut pasti orang yang beragama akan mendengarkan dengan baik dan menjalankan instruksinya. Akan tetapi kharisma ini juga tidak bisa didapatkan begitu saja.

Hal keempat seseorang mau mengikuti orang lain, karena memiliki hal atau aspirasi yang sama. Ini terjadi pada partai politik.

Selanjutnya alasan orang lain mau mengikuti atau menjalankan perintah adalah karena adanya tujuan yang sama. Dengan memiliki tujuan sama artinya saling bahu membahu untuk cepat sampai pada tujuannya. Contoh misalnya ada pada partai politik dengan tujuan sama membangun Indonesia.

Kagum dan percaya kepada sang pemimpin. Inilah tingkatan tertinggi seseorang jadi pemimpin.

Terakhir adalah tingkatan tertinggi dari sebuah negara demokrasi yakni kepercayaan rakyat pada pemimpinnya sehingga setiap pemimpinnya memiliki ide atau kebijakan akan diterima dengan senang hati oleh rakyatnya. Masih terekam jelas bagaimana seorang pemimpin seperti Bung Karno bisa memberikan instruksi untuk berjuang bersama mengusir penjajah di masanya. Kisah ini tentunya bagi Indonesia akan selalu menjadi kisah inspiratif.