Sederet Prestasi dan Pencapaian Moeldoko Selama Menjadi Panglima TNI

Tahun ini, Tentara Nasional Indonesia (TNI) akan memasuki usia yang ke-73. Dalam rentang waktu perjalanan hampir 73 tahun tersebut, kesatuan TNI tidak lepas dari peran para panglima tertingginya. Salah satunya adalah Jenderal TNI Purnawirawan, Moeldoko.

Moeldoko yang saat ini menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan, memang identik dengan pengabdiannya di TNI Angkatan Darat. Puncak kariernya di TNI Angkatan Darat adalah saat dia menjabat sebagai Kepala Staf TNI AD pada 20 Mei hingga 30 Agustus 2013.

Singkat cerita, perjalanan karir militer Moeldoko dimulai ketika ia memilih untuk mengikuti sekolah Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) pada tahun 1981.‎ Ia sendiri mengaku mendapat prestasi dengan predikat lulusan terbaik AKABRI di angkatannya.

Pada 1981, Moeldoko sempat menjadi Komandan Pleton (Danton) Linud 700/BS Kodam VII/Wirabuana. Itu merupakan jabatan pertama yang disandangnya setelah masuk Akabri. Jabatan lainnya pun menyusul diperoleh Moeldoko di tahun-tahun berikutnya.

Putra bungsu pasangan Moestaman dan Masfu'ah tersebut bercerita bahwa awalnya ia tertarik masuk ke dunia militer karena terinspirasi dari kakaknya yang merupakan prajurit di kesatuan TNI.‎  Memasuki tahun 2013, karier militer Panglima Moeldoko semakin cemerlang ketika Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KASAD). Lebih dari itu, pria kelahiran Kediri, Jawa Timur tersebut juga dipercaya untuk memimpin kesatuan TNI menjadi Panglima TNI menggantikan Laksamana Agus Suhartono.

Jenderal Moeldoko memimpin TNI sekitar dua tahun sebelum pada akhirnya pensiun. Menariknya lagi, Moeldoko mengungkapkan bahwa dirinya sempat mengikuti beberapa operasi militer di Indonesia bahkan di kancah dunia. Sungguh pencapaian yang membanggakan.

Jika dijabarkan, kira-kira apa saja pencapaian Moeldoko saat menjadi panglima TNI? Berikut sederet kinerjanya dari tahun 2013-2015:

1. Isu Strategis TNI:

  • Peningkatan Disiplin Prajurit
  • Peningkatan Profesionalisme & Kesejahteraan
  • Penegakan Hukum & HAM
  • Terjaganya Netralitas TNI
  • Melanjutkan Program MEF & Renstra Lainnya

2. Pembinaan kemampuan:

  • Intelijen
  • Pertahanan
  • Keamanan
  • Teritorial Dukungan

3. Program Latihan:

  • Latihan PPRC (Poso)
  • Pembentukan Komando Operasi Khusus Gabungan (KOOPSUSGAB) TNI

4. Pendidikan:

  • Penguatan Intelijen dengan peningkatan SDM (SMAI)
  • Penguatan Kodiklat TNI
  • Sekolah Penerbang Terpadu (Terpusat di TNI AU)
  • Integrasi Taruna TNI-Polri (TA 2015)

5. Alutsista:

Memposisikan Kasum sebagai Ketua Wanjakti & Wakil Kepala Staf sebagai anggota dalam rangka interoperabilitas.

6. Kesejahteraan:

  • Peningkatan Remunerasi 37 persen menjadi 56 persen
  • Kenaikan Gaji Pokok 6 persen
  • Uang lauk pauk Operasi 25-30rb/org/hari menjadi 60rb/org/hari
  • Uang saku operasi luar negeri dari 1.106 dolar menjadi 1.235 dolar dan berjenjang
  • Pembentukan Rumah Sakit Sandaran untuk Ops TNI & Peningkatan Yankes, Menyertakan Keanggotaan Prajurit TNI Dalam Program BPJS.
  • Mencari sumber-sumber baru diluar APBN
  • Pembangunan 1000 unit Rumah untuk Prajurit
  • Pembangunan 200 rumah dari BRI dan BNI
  • 95,000 m2 Keramik untuk anggota
  • Pembangunan RUSUNAWA

7. Sebagai Prajurit Profesional

  • Dimensi Organisasi & Pendidikan
  • Pembentukan Pusjaspermildas
  • Penguatan Struktur BAIS TNI ( Sat Cyber )
  • Pembentukan POM TNI
  • Pembentukan Komando Operasi Pasukan Khusus Gabungan TNI (KOOPSUSGAB)
  • Panglima TNI Awards, peningkatan Litbang TNI dengan melibatkan unsur akademis- Sipil
  • Pembentukan Komando Sektor pada Ops Pam Perbatasan Wilayah Darat (Papua)
  • Pembentukan Marshaling Area (Sentani, Singkawang) ,Kompi-Kompi Satgas Pam Rahwan Papua (satuan organik & penugasan)
  • Penambahan Sat operasi Pamtas
  • Kalimantan (dari 2 Yonif menjadi 4 Yonif)
  • Timor (dari 1 Yonif menjadi 2 Yonif)
  • Papua (dari 2 Yonif menjadi 4 Yonif)

8. Prajurit Pejuang:

  • Mengingatkan lebih awal kepada prajurit, walaupun mendapatkan alutsista baru tetapi militansi tetap terjaga.
  • Militansi Operasi Penyelamatan Air Asia
  • TNI telah mengatasi kebakaran hutan diberbagai daerah

9. Stabilitas:

  • Pemilu Legislatif & Pilpres 2014 berjalan dengan lancar.
  • Menjaga stabilitas kawasan sebagai mediator pada kasus Laut Cina Selatan
  • Sumbu X dan Sumbu Y dalam Stabilitas dan Keterbukaan, TNI mampu bermain di ruang sempit karena netralitasnya.

10. Keterbukaan:

  • MOU dengan berbagai Lembaga
  • TNI dipercaya sebagai mediator dalam beberapa event (Kasus KPK, PSSI)
  • Permintaan TNI masuk ke berbagai lembaga pemerintah
  • Mendirikan TV, Radio TNI, museum penerangan serta media center dalam upaya membangun komunikasi yang positif kepada media & masyarakat Indonesia.
  • Memberi doktrin baru dalam berkomunikasi
  • Informasi tidak boleh lagi dikendalikan
  • Komunikasi dua arah sebagai pilihan yang efektif (Program TNI mendengar).

11. Renstra dan MEF:

  • Pendekatan sumbu x & y dalam strategi pembangunan kekuatan (Indonesia: Frekwensi Ancaman Keamanan Tinggi, Tingkat Kehancuran rendah).
  • Mengembangkan Renstra 2015-2019 yaitu:
  • Renstra Alutsista TNI
  • Renstra Kesejahteraan Prajurit dan PNS TNI
  • Renstra Pemeliharaan dan Perbaikan Materiil TNI

Itulah sederet pencapaian Moeldoko selama menjadi Panglima TNI. Tidak sedikit, bukan? Lalu setelah pensiun dari militer, ia sempat menjajaki ranah politik praktis dengan masuk ke dalam jajaran pengurus Partai Hanura pimpinan Oesman Sapta Odang pada 2016. Tak hanya itu, Moeldoko juga tercatat sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Hanura. Ia pun mendampingi Jenderal TNI (Purn) Wiranto yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina. Karier politiknya kini merambah kabinet dan masuk Istana Kepresidenan. Awal tahun 2018, Moeldoko pun ditunjuk sebagai Kepala Staf Kepresidenan oleh Presiden Joko Widodo hingga saat ini.