Idul Fitri dan Momentum Mempersatukan Bangsa

Lebaran Idul Fitri dirayakan sebagai wujud kemenangan umat islam setelah melaksanakan ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. Maka sebagai momentum perayaan, seluruh umat Islam Indonesia menghabiskan waktu untuk saling maaf-memaafkan atas dosa-dosa selama ini.

Di Indonesia, lebaran Idul Fitri (juga Idul Adha) melahirkan tradisi mudik (kembali ke udik/kampung halaman). Banyak warga perantau yang pulang kampung untuk berjumpa dengan para keluarganya di kampung. Sehingga setiap menjelang lebaran, jalan raya selalu dipenuhi mobil-mobil yang mengangkut mereka yang ingin pulang kampung. Bahkan tiap tahun biasanya selalu macet.

Tetapi di mudik kali ini, tak ada kemacetan seperti di masa lalu. Beberapa kebijakan pemerintah hari ini yakni Joko Widodo, berhasil mengurai macet. Pertama, keberadaan tol yang terutama ke Jawa Timur. Kedua, kebijakan memberikan hari libur lebih panjang sehingga banyak yang dapat pulang lebih awal. Arus mudik tidak menumpuk pada H-2 atau H-1. Itulah yang mengurai kemacetan.

Yang penting dari momentum Idul Fitri tentunya adalah momentum persaudaraan yang makin kuat. Kita tahu bahwa pada tanggal 27 Juni 2018 adalah momentum pemilukada serentak. Pada 2019 nanti ada momentum pileg dan pemilu presiden. Tahun-tahun menjelang perhelatan politik, suasana bangsa ini dipenuhi berbagai perseteruan politik. Bahkan tak jarang fitnah, hoaks dan sebagainya bertebaran. Berita-berita yang memancing isu SARA dan propaganda politik yang sama sekali mengabaikan dimensi moral dari politik.

Situasi ini tentu saja tidak diharapkan berlarut-larut. Ikatan persatuan dan persaudaraan sebagai satu bangsa Indonesia harus semakin erat. Maka Moeldoko berharap momentum hari raya idul fitrih ini hendaknya menjadi momentum yang dapat menyuntikkan semangat persaudaraan. Ini yang diharapkan oleh Moeldoko.

Katanya: ini momentum yang bagus untuk saling menyatukan. Kita menginginkan bangsa semakin bersatu. Ungkapan itu disampaikan oleh Moeldoko saat berada di rumah dinas Wakil Presiden Jusuf Kalla, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (15/6/2018).

Rasa persaudaraan perlu dipupuk karena itu basis dari persatuan yang kuat. Semakin kuat persaudaraan sebagai satu bangsa maka semakin kuat persatuan kita. Sebaliknya jika persaudaraan sesama bangsa longgar, maka semakin mudah dirongrong dan dipecahbelah dari dalam oleh bangsa lain. Tentu saja ini sangat ditakutkan.

Persatuan yang kuat juga memungkinkan segala persoalan dapat diselesaikan dengan baik. Betapa pun besarnya yang dihadapi bangsa Indonesia, bila persatuan bangsa kuat maka hal itu bisa lebih mudah diatasi. Ini ibarat filosofi sapu lidi. Jika tiap-tiap lidi tercerai-berai maka mudah dipatahkan dan susah menyelesaikan satu masalah dengan cepat. Jika tiap-tiap itu bersatu, maka siapa sanggup mematahkan? Ada ungkapan yang lumrah: bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

Moeldoko mengatakan, tak dipungkiri dalam sebuah pesta demokrasi akan ada perbedaan. Namun, perbedaan tersebut harus dapat digunakan untuk mencapai tujuan nasional, yakni menuju masyarakat yang adil dan sejahtera