Ini Jihad Versi Moeldoko

Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko menyerukan jihad untuk menghidupkan serta menggerakkan ekonomi umat sebagai jihad yang sebenarnya. Ia meminta agar umat bersama-sama melakukan upaya ini dengan pemerintah.

Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan kalangan DPR menanggapi positif seruan ini untuk menggerakkan perekonomian dan memberdayakan yang lemah, juga menolong yang kesulitan.

Moeldoko menjelaskan, pemerintah saat ini terus berupaya menggerakkan ekonomi umat. Untuk itu ia menyampaikan terima kasih kepada Lazismu (Lembaga Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah) yang ikut berkontribusi besar dalam menghidupkan ekonomi umat.

"Menghidupkan ekonomi umat inilah jihad yang benar," kata mantan Panglima TNI Moeldoko dalam keterangan resminya yang diterima "PR", Sabtu 9 Juni 2018.

Menurut  Moeldoko, memberdayakan orang yang tidak berdaya, membantu orang-orang yang dalam kesulitan, dan mengangkat pendidikan anak-anak yang kurang mampu merupakan implementasi dari makna jihad.

Seruan ini juga dinyatakannya dalam acara peluncuran "Tebar Kado Ramadhan dan Mudikmu Aman" yang diselenggarakan Lazismu di kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Menteng Raya Jakarta, Jumat 8 Juni 2018 malam.

Jenderal Purn Moeldoko yakin, setiap niat baik akan menemukan jalannya. Sebagai lembaga penyalur, Moeldoko yakin Lazismu bisa menyampaikan bantuan kepada pihak yang benar-benar membutuhkan dan juga bisa mengelolanya dengan baik. Oleh karena Itu, ia bersedia bergabung dan menjadi bagian dari Lazismu.

Hal senada diungkapkan Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Muhammad Cholil Nafis. Dia menuturkan, jihad yang baik adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

"Perang di jalan Allah swt juga merupakan jihad dan nabi telah melakukan itu. Jadi apa yang dikatakan (Moeldoko) itu sudah tepat," kata Cholil.

Menurut Cholil, menolong orang lain merupakan salah satu bentuk jihad. Ia menjelaskan bahwa jihad itu dibagi dua, yakni ada yang untuk diri sendiri dan ada untuk orang lain.

Baik itu membantu secara ekonomi, atau dakwah, bahkan mencari nafkah, itu juga merupakan jihad.

Pemberdayaan ekonomi

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak menuturkan, Lazismu tidak sekadar menyalurkan bantuan kepada kaum yang berhak serta layak, melainkan juga turut memberdayakan ekonomi umat.

"Mengenai ekonomi umat, selain delapan golongan orang yang berhak menerima zakat kita juga menyalurkan untuk bantuan modal bagi orang kecil yang ingin usaha. Kaum marjinal juga menjadi sasaran penyaluran kita," kata Dahnil.

Oleh karena itu, dikatakan Dahnil, Lazismu bisa membuat para penerima bantuan naik tingkat. Tidak hanya sekadar menerima bantuan, tapi ke depannya malah mampu menjadi pemberi zakat. "Jadi pergerakan ekonomi masyarakat terus maju. Jika ekonomi bagus tentu baik untuk negara," tutur dia.

Harapan Dahnil terkait pemberdayaan ekonomi umat, juga dirasakan oleh Ketua Komisi VIII DPR RI, Ali Taher Parasong. Dia merasa bahwa Lembaga Amil Zakat sangat berpotensi berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat, khususnya dalam konteks ekonomi.

Politikus PAN yang memimpin komisi Agama itu berpendapat, Lembaga Amil Zakat yang dikelola oleh ormas keagamaan, seperti Muhammadiyah dan NU bisa lebih memiliki kekuatan yang riil dibanding dengan Lembaga Zakat yang dikelola pemerintah.

"Orang merasa nyaman dengan lembaga (yang dikelola ormas keagamaan) itu, karena manajemennya tidak rumit, kemudian prosesnya mudah, akses mudah, dan fokus kepada pelayanan umat," katanya.

Oleh karenanya, dia berharap agar pemerintah dapat melakukan pengelolaan zakat seperti yang dilakukan oleh ormas keagamaan.***