Moeldoko: Masjid Harus Jadi Pusat Pemberdayaan Masyarakat

Jakarta, Gatra.com - Keberadaan Masjid di Indonesia diharapkan bukan
hanya menjadi tempat ibadah, namun juga pemberdayaan masyarakat. Kepala
Kantor Staf Presiden (KSP) Jenderal (Purn) Moeldoko mengatakan, sejumlah
aset masjid bisa saja dimanfaatkan agar bisa mendatangkan pemasukan,
asalkan fungsi utamanya sebagai rumah ibadah tetap tidak terganggu.

Ia pun bercerita tentang masjid dan Islamic center di Jombang, Jawa Timur yang dibangunnya. “Bukan saya mau Riya (ingin dipuji) tapi di Islamic Center dibangun toko oleh-oleh di depannya untuk dikelola agar masjid tidak meminta-minta di jalanan,” tuturnya, Rabu (8/8) kemarin. Islamic Center Moeldoko juga memiliki gedung pertemuan dan barak untuk musafir, hingga panti asuhan yatim piatu.

Ia berharap komplek Islamic Center seluas hampir 1 Ha itu bisa memberdayakan masyarakat Jombang. Moeldoko menegaskan, pengelolaan Masjid yang menampung sekitar 1500 jamaah dan Islamic Center itu diserahkan ke Pemkab Jombang. Kecuali untuk panti asuhan, tetap ditanganinya.

Terkait fungsi lain dari masjid itu, menurut Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Dahnil Azhar Simanjuntak, seharusnya tidak menjadi masalah. Dalam kesempatan terpisah, Dahnil mengatakan bahwa masjid sejatinya adalah pusat peradaban Islam dengan segala kegiatan ekonomi, politik, atau kebudayaannya. “Jadi jangan dianggap masjid hanya untuk tempat ibadah saja,” katanya kepada wartawan.

Oleh karena itu, ia sepakat bahwa semangat membangun masjid adalah juga untuk membangun peradaban. Apalagi bila pembangunannya dilakukan tanpa harus meminta-minta di tepi jalan. Karena di luar cara itu, menurutnya bisa juga dilakukan lewat pemberian bantuan sosial dari pemerintah, dari kelompok usaha sosial masyarakat, atau dana CSR. “Kita perkuat semangat sedekahnya,” kata Dahnil lagi.

Fungsi lain masjid, di luar sebagai tempat kegiatan ibadah, mendapat penguatan dari argumen Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Didin Hafidhuddin. Menurutnya, pada zaman keemasan Islam, hampir semua kegiatan berporos di masjid. Mulai dari ibadah, sosial, ekonomi, kesejahteraan, hingga pendidikan.

Dalam konteks sosial, Didin menyampaikan bahwa Masjid bisa menjadi penghubung antara kaum yang kurang mampu dengan jemaah yang lebih mampu secara ekonomi. Dalam konteks pendidikan, masjid bisa mengambil peran sebagai penjamin anak-anak kurang mampu agar mereka bisa terus mendapat akses pendidikan atau memberikan beasiswa.

"Andaikan setiap Masjid [menyekolahkan] dua orang anak dhuafa, bayangkan, berapa juta anak yang bisa diatasi, diberikan harapan pendidikan," tutur Didin.

Selain itu, keberadaan komunitas remaja Masjid dinilai mampu membangun karakter generasi muda. “Banyak contoh remaja masjid yang melakukan aktivitasnya sejalan dengan kebutuhan pemuda, dan melahirkan pemuda yang menjadi pimpinan bangsa,” pungkas Didin.