Pemerintah bangun talenta pemuda lewat optimisme Bung Karno

Euforia kemenangan sprinter nasional, Lalu Muhammad Zohri membuka
optimisme terhadap generasi muda. Demikian diungkap Kepala Kantor Staf
Presiden Moeldoko.

Moeldoko mengungkap prestasi Zohri menjadi salah satu contoh optimisme Bung Karno kepada pemuda Indonesia. Ia menilai rasa tersebut adalah hal yang relevan dan kekinian dalam membangun bangsa dan negara.

Untuk itu, pemerintah memanifestasikan optimisme proklamator itu dengan pembinaan nyata terhadap pemuda dan talentanya.

"Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia. Ini adalah pesan optimis yang selalu saya ingat. Bila anak-anak kita dipetakan dengan kapasitasnya yang mereka miliki, kita akan menggemparkan dunia," kata Moeldoko di Jakarta, Rabu (26/7).

Kutipan Bung Karno tersebut merupakan hal yang mendasari program pemerintah mengkanalisasi talenta pemuda Indonesia. Optimisme Soekarno ini, menurutnya harus menjadi optimisme semua.

Pembinaan bakat di Tanah Air, lanjutnya, agar talenta generasi muda bisa bermanfaat bagi bangsa dan negara. Moeldoko mengungkapkan bahwa KSP dan Presiden Joko Widodo tengah membentuk suatu strategi pembinaan bakat.

"Kita ingin menjaring potensi anak muda. Karena negara wajib memberikan kesempatan," tuturnya.

"Jasmerah, jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah. Ini juga harus menjadi pemikiran kita. Pemuda-pemuda wajib mempelajari sejarah. Karena kita tidak akan berada di hari ini, kalau tidak ada masa lalu," demikian Moeldoko mengutip lagi pidato Bung Karno yang pernah terucap di HUT Indonesia tahun 1966 silam.

Senada dengan pemerintah, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan pemerintah telah berupaya merawat potensi generasi muda Indonesia sejak masih taraf anak-anak.

Komisioner KPAI, Retno Listyarti menambahkan khususnya perlindungan agar anak Indonesia terjamin pendidikannya. Mulai dari program wajib belajar 12 tahun hingga sekolah gratis untuk jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama. Sedangkan untuk tingkat menengah atas dan kejuruan, ada Bantuan Operasional Sekolah/BOS yang dianggarkan di APBN dan BOS daerah yang dianggarkan di APBD.

"Pemerintah juga berupaya anak miskin dan nilai akademik rendah tetap dapat mengakses pendidikan berkualitas di sekolah negeri melalui sistem zonasi," kata Retno.